Kedutaan Besar Kerajaan Belanda Mengundang APPSI Dalam Pembahasan Susut Hasil Paska Panen

dubes belanda 2

dubes belanda 1

 

Bertempat di Hotel GrandKemang, Jakarta, pada tanggal 21 Maret 2017, Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia memenuhi undangan Kedutaan Besar Kerajaan Belanda untuk mewakili pedagang pasar dalam pembahasan mengenai  susut hasil paska panen (post harvest lost) bahan makanan pokok khususnya buah, sayur dan produk perikanan.

 

Menurut Food and Agriculture Organization (FAO), sekitar 1/3 dari semua bahan makanan pokok di dunia susut terbuang antara produksi dan konsumsi. Dalam perhitungan FAO kerugian yang diakibatkan oleh  susut hasil paska panen ini mencapai USD 940 milyar per tahun.

 

Di Indonesia, bahan makanan pokok yang terbuang sebesar 315 kg per kapita per tahun, padahal menurut data yang disadur dari Lembaga World Food Program, di Indonesia pada tahun 2014, masih ada 87 juta orang Indonesia yang masih kekurangan bahan makanan pokok dan ada 9.5 juta balita yang kekurangan gizi. Hal ini juga ditekankan oleh perwakilan dari Kementerian Kesehatan pada pertemuan ini, Bapak Eko Prihastono yang memaparkan fakta bahwa tingkat konsumsi sayur, buah dan ikan oleh masyarakat Indonesia masih cukup rendah dibandingkan dengan negara-negara di ASEAN.

 

Selain APPSI yang diundang untuk mewakili pedagang pasar, undangan lain pada acara pembahasan ini termasuk Asosiasi Bawang Merah Indonesia, Asosiasi Exportir Sayuran dan Buah Indonesia, BAPPENAS, Dewan Bawang Indonesia, KADIN, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kesehatan, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian dan Kementerian Pertanian.

 

dubes belanda 2

 

Menurut Wakil Duta Besar Kedutaan Kerajaan Belanda, Ferdinand Lahnstein, diharapkan pertemuan ini membahas potensi-potensi solusi  bersama yang bisa didapat dalam rangka mengurangi isu susut hasil paska panen.

 

Disinyalir, banyak terjadi susut hasil paska panen yang terjadi di pasar, sebelum sampai ke konsumen akhir. Susut hasil paska panen tersebut mengakibatkan di satu sisi pendapatan dari petani menurun dan di sisi lainnya harga yang dibayar oleh konsumen lebih tinggi dari yang semestinya.

 

APPSI yang diwakili oleh M. Maulana sebagai Sekretaris Jenderal, berpandangan banyaknya susut hasil paska panen terjadi pada saat sayur dan buah sebelum sampai ke pedagang pasar, terlebih di kota besar karena jarak antara sentra produksi dan sentra konsumsi yang cukup jauh. Contohnya ketika saat penanganan bongkar muat dari petani ke pengepul daerah dan ke mata rantai lainnya. Isu-isu seperti goncangan pada saat sayur dan buah dalam perjalanan, kemasaan paket sayur dan buah yang tidak memenuhi standar. Buah dan sayuran ditumpuk sangat tinggi dalam perjalanan dan penggunaan karung yang seadanya yang membuat sayur dan buah tidak bisa mendapatkan ventilasi yang cukup, dan ini harus menjadi perhatian bersama. Belum lagi isu-isu susut hasil paska panen banyak juga terjadi pada saat dalam perjalanan dikarenakan sayur dan buah diangkut dengan mobil angkutan terbuka yang menyebabkan sayur dan buah terkena matahari langsung. Ditambah ketika sayur dan buah sampai dari sentra produksi, sebelum sampai ke pedagang pengecer, sayur dan buah biasanya harus menunggu sementara di pasar besar atau pasar induk, dimana biasanya tidak ada fasilitas yang memadai ditempat penampungan sementara sehingga besar kemungkinan dapat terjadi penyusutan sebelum sayur dan buah diantar ke tingkat pedagang pengecer.

 

APPSI dalam acara ini berkomitmen untuk bekerja bersama pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat lainnya, dalam hal mengurangi susut hasil paska panen pada umumnya dan pada tingkat pedagang pasar pada khususnya.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*