APPSI Mewakili Pedagang Pasar dalam Pembahasan InterKementrian Kartel Cabai

appsi pembahasan kartel cabai

appsi pembahasan kartel cabaiOleh : Sekretariat DPP APPSI

 

Dalam acara pembahasan interkementrian penanganan harga cabai dan komoditas lainnya  sesuai dengan undangan dari Kepolisian Negara Republik Indonesia nomor B/229/III/2017/Baintelkam, yang dilaksanakan pada Hari Jumat, 17 Maret 2017 bertempat di Bareskrim Polri, Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) hadir mewakili pedagang pasar.

 

Selain APPSI, institusi lain yang hadir termasuk Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, PD. Pasar  Jaya, Perum Bulog, Kantor Staf Kepresidenan dan Komisi Pengawasan dan Persaingan Usaha (KPPU).

 

surat polisi

Membantu pemerintah dalam usaha pengendalian  harga bahan pokok adalah salah satu misi utama dari APPSI.  Sejak 2016, APPSI sudah menjadi wakil pedagang pasar dan menjadi partner kerja KPPU dalam usaha membantu pemerintah menjaga stabilitas harga bahan pangan.

 

Perkembangan harga cabai selalu menjadi pantauan Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) APPSI. Sejak awal 2017, harga cabai merah, baik rawit maupun keriting di berbagai wilayah di Indonesia  dipantau melonjak tinggi.

 

WAKABAINTELKAM POLRI, yang  juga Ketua SATGAS  Perkara Mafia Pangan, IRJEN POLISI Drs Setyo Wasisto, SH, pada acara pembahasan ini mengatakan “Masalah melambungnya harga cabai tersebut salah satunya dikarenakan cabai yang seharusnya dibawa ke Pasar Induk seperti Kramat Jati di Jakarta, kenyataannya hampir 90% berbelok ke beberapa perusahaan pengolahan”. Data tersebut berbeda dengan informasi dari salah satu dari tujuh perusahaan pengolahan cabai yang hadir pada acara pembahasan ini. Perwakilan PT HEINZ ABC  mengutarakan bahwa hanya 10% dari produksi  cabai yang dipergunakan oleh industri  pengolahan.

 

Kementerian Pertanian yang dihadiri oleh Direktur Jenderal Holtikultura, Spudnik Sujono menyampaikan bahwa sebaiknya pihak industri pengolahan cabai bisa bekerjasama dengan Kementerian Pertanian yang mempunyai database produsen cabai agar perusahaan pengolahan cabai bisa mengakses langsung pusat produksi sehingga mata rantai distribusi bisa diperpendek.

 

Informasi terkini di awal Maret, dipantau oleh APPSI bahwa harga cabai sudah menunjukkan trend menurun walaupun belum begitu signifikan. Hal ini sejalan dengan mulai berlimpahnya pasokan yang masuk dari beberapa daerah sentra produsen cabai seperti Tuban dan Garut.

 

Menurut data yang dikumpulkan oleh Litbang APPSI, jumlah produksi cabai hingga Desember 2016 adalah 1.2 juta ton, sedangkan konsumsi sekitar 0.9 juta ton. Sedangkan untuk cabai rawit produksi hingga akhir tahun 2016 adalah 0.9 juta ton, sedangkan konsumsi 0.65 juta ton.  Kalaupun ada kabar bahwa pada awal tahun 2017 ini produksi turun sampai 20% karena faktor cuaca, seharusnya kesimbangan antara ketersediaan barang dan permintaan barang masih bisa terjaga. Litbang APPSI memandang bahwa pendistribusian produksi ke pedagang pasar adalah yang menjadi sebuah kendala utama kenaikan harga bahan pokok seperti cabai.

 

APPSI dengan salah satu misinya yaitu membantu usaha pemerintah dalam pengendalian harga bahan pokok, sejak rapat kerja teknis DPP APPSI pada tahun 2016 sudah memutuskan bahwa salah satu pilar utama program APPSI yaitu mendirikan sebuah lembaga distribusi bahan pokok untuk mencoba menjembatani dan memotong rantai distribusi bahan pokok.

 

Menurut M. Maulana, Sekretaris Jenderal DPP APPSI yang hadir dalam acara pembahasan interkementrian ini menyatakan, “Rantai distribusi bahan pokok seperti cabai terlalu panjang. Hasil survey yang pernah dilakukan APPSI, mata rantai distribusi dimulai dari petani ke pengepul kecil, lalu ke pengepul besar, lalu ke pedagang besar di pasar induk, baru ke pedagang pasar pengecer dan ke masyarakat. Bisa sampai ada 6 titik rantai, bahkan bisa lebih. Kalau dalam satu titik rantai mengambil margin Rp 3.000/kg diluar ongkos kirim, pantas kalau contohnya harga cabai rawit merah di tingkat petani dikisaran Rp 70.000/kg sampai di pedagang pasar eceran Rp 110.000/kg.”

 

APPSI mencoba melakukan beberapa terobosan program di bawah Lembaga Distribusi Bahan Pokok, agar rantai distribusi bisa dipangkas sehingga program pemerintah dalam usaha pengendalian harga bahan pokok bisa tercapai. Sejalan dengan petani, industri dan pemerintah, pedagang pasar melalui APPSI menginginkan kepastian harga dan ketersediaan barang cabai dan bahan pokok lainnya di tingkat pedagang pasar.  M. Maulana, Sekretaris Jenderal DPP APPSI menghimbau agar pemerintah bisa mengatur supaya pola tanam bahan pokok seperti cabai dapat sejalan dengan pola konsumsi masyarakat dan kendala logistik dari sentra produksi ke sentra konsumsi dapat diatur dengan baik. APPSI dengan jajarannya di seluruh Indonesia siap menjadi mitra pemerintah dalam hal pengendalian harga bahan pokok.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*