Pedagang Perlu Kepastian Harga dan Supply Dalam Menjaga Ketahanan Pangan

pedagang-pangan

pedagang-pangan

Jakarta – Senin, 4 April 2016, Bank Indonesia melalui Departemen Riset Kebanksentralan mengadakan diskusi mengenai model ketahanan pangan untuk menjaga stabilitas harga. Pendekatan yang digunakan adalah pengembangan integrasi informasi utama beberapa komoditas. Diskusi ini dihadiri oleh Kementerian Perdagangan, Kementerian Perhubungan, Bulog, DPUM, DKEM, dan Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI).

Salah satu penyumbang inflasi terbesar berasal dari volatile food, yaitu beras, bawang merah, cabai merah, daging sapi, daging ayam ras, dan telur ayam ras. Permasalahan yang dihadapi meliputi proses produksi, panen dan pasca panen, dan distribusi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Bank Indonesia, data menunjukkan produksi lebih tinggi dari konsumsi, kecuali telur ayam ras dan daging sapi pada tahun 2012. Impor juga masih tetap dilakukan meskipun produksi dalam negeri masih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa permasalahan utama yang dihadapi adalah mobilisasi komoditas antar daerah.

Segmentasi area produksi sangat diperlukan untuk mendekatkan akses distribusi oleh Kementerian Perhubungan agar tercapai efisiensi distribusi dan pemangkasan biaya yang lebih rendah. Selain itu, rekayasa bibit untuk produksi dalam negeri juga sangat penting mengingat beberapa perusahan pertanian luar negeri yang berada di Indonesia cukup menguasai bidang ini. Perkembangan teknologi juga tidak bisa diabaikan, banyak aplikasi-aplikasi pendukung distribusi komoditas maupun proses perdagangan langsung kepada konsumen, seperti aplikasi Petani, Groceria.com, dan lainnya.

Dari sisi pedagang pasar, APPSI melihat isu ketahanan pangan ini berkaitan dengan supply dan demand yang perlu dijaga keseimbangannya. Pedagang membutuhkan kepastian harga dari pemerintah maupun petani dan distributor. Kepastian besarnya supply dan kontinuitas dari pihak produsen atau distributor sangatlah penting di kalangan pedagang. Hal ini yang belum bisa dijanjikan oleh pemerintah maupun produsen dalam negeri. Akibatnya, pedagang lebih memilih barang komoditas hasil impor karena lebih menjanjikan keberlanjutan supply dan kepastian harga. (Sumber : teks DRK-Bank Indonesia dan Sekretariat)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*